Bukan hanya sekolah saja. Sepertinya seluruh elemen masyarakat dan pekerjaan, pasti mendapatkan hikmah masing-masing dari system pembelajaran jarak jaruh di masa pendemic ini. Berbeda hikmah, tapi sama-sama mendapatkan hikmah. Jika pekerja kantoran belajar dengan ritme baru yang terpaksa work from home, hikmahnya tentu saja tidak perlu bermacet-macetan di jalan raya. Tantangannya adalah komitmen dengan pekerjaan yang harus diselesaikan dengan atmosfer rumah, bukan kantor. Ditambah lagi jika ada anak kecil yang mengajak untuk bermain. Atau anak usia sekolah yang bertanya tugas kepada orangtuanya. Semakin pusing?

Pandemi memberikan hikmah tersendiri. Daripada kita menyesali apa yang sudah terjadi, berpikir hikmah adalah kunci yang bisa kita lakukan saat ini.

Karena orangtua juga guru.

Masa pandemi menegaskan peran sesungguhnya dari orangtua. Baik itu ayah atau ibu. Guru “hanyalah” orangtua di sekolah. Tapi orangtua adalah guru sepanjang masa bagi anaknya. Maka jika konsep berpikir orangtua menyerahkan kurikulum dan belajar anak sepenuhnya kepada guru, maka kewalahan nantinya di masa depan. Bagaimana jika kurikulum sekolah tidak sejalan dengan kurikulum keluarga? Nah loh, repot kan?

Apalagi di kondisi pandemi. Orangtua yang tidak siap akan kewalahan. Anak bertanya kepada ayah, eh ayah melempar kepada ibu. Ibu tidak tahu jawabannya, malah melempar lagi ke ayah. Saling melempar pertanyaan anak. Pusing dan stress. Hingga akhirnya, Google adalah solusi utama. Lalu anak pun berpikir.

“Kalau hanya bertanya ke Google mah saya bisa.”

Anak bertanya ke orangtua bukan serta merta dia tidak tahu. Tapi berharap ada kedekatan komunikasi antara anak dan orangtua. Itulah hikmah pertama.

Perlahan, orangtua mulai sadar. Bahwa anak butuh kehadiran orangtua. Bukan hanya dalam hubungan berkeluarga, tapi termasuk belajar si anak. Orangtua belajar untuk lebih sabar menghapi anak-anaknya sendiri. Jika biasanya hanya perihal makan apa, kali ini pertanyaannya adalah sudah mengerti dengan pelajaran hari ini?

Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan anak ke orangtua pun membuat orangtua belajar kembali. Google mungkin tahu segalanya, kecuali peta Palestina. Tapi pertanyaan anak yang orangtua cari tahu jawabannya lah yang membuat orangtua menjadi lebih pintar. Belajar lagi. Mungkin tidak harus paham secara menyeluruh dan detail. Tidak harus semua pertanyaan A-Z diketahui oleh orangtua. Tapi setidaknya, jangan ada jawaban, “tanya ke Google aja” dari mulut orangtua. Penting bagi orangtua untuk terjun langsung dalam proses belajar anak.

Hikmah yang tak kalah penting adalah, orangtua jadi menghargai pengorbanan guru. Jika selama ini, anak “dilepas” ke sekolah untuk belajar sepenuhnya kepada guru, kini orangtua paham betapa repotnya mengajar satu anak saja. Apalagi guru yang harus mengajar puluhan bahkan ratusan anak. Guru adalah profesi dan peran yang mulia, maka mari kita hargai bersama.

Guru adalah orangtua di sekolah. Ibu adalah madrasah utama. Ayah adalah kepala sekolah. Setiap dari kita punya perannya masing-masing untuk mengajar anak, agar kelak menjadi insan yang bertakwa dan mampu mencapai visi mulia manusia diciptakan di dunia.