Yayasan Al Hasanah Bengkulu mengadakan pengajian rutin bagi seluruh guru dan karyawan sebulan dua kali. Pengajian pada minggu pertama Oktober  ini diisi oleh Ustadz Muhammad Hafidz yang membahas tentang “Kiat Menguatkan Kembali Ibadah di Tengah Pandemi,” (Sabtu, 3/10).

Ustadz Hafidz mengajak guru dan karyawan Al Hasanah menjadi pribadi yang senantiasa mengevaluasi (muhasabah) sudah sejauh mana kualitas ibadah yang dikerjakan sejak akil baligh hingga saat ini. Jika ibadah dilakukan dengan benar, maka pasti akan memberikan dampak positif dalam kehidupan. Contohnya, dengan berdzikir (mengingat Allah Ta’ala) hati kita menjadi tentram atau ibadah shalat kita menjaga kita dari perbuatan keji. Jika orang benar-benar mendirikan shalat, maka bisa dipastikan orang tersebut amar makruf nahi munkar sebagaimana dalam firman-Nya, “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabuut:45)

Untuk memperbaiki kualitas ibadah, tips dari Ustadz Hafidz adalah dengan menegakkan 3 rukun ibadah. Dalam setiap perbuatan dan ibadah seorang hamba harus mempunyai ketiga pilar ini, yaitu:

1. Mahabbah (cinta)
Lezatnya ibadah dapat dirasakan jika dilandasi dengan rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan kecintaan tersebut, yang berat terasa ringan, yang sulit menjadi mudah dan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Cinta kepada Allah merupakan bukti kedekatan dan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-Nya, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

“Sedangkan orang-orang yang beriman mereka sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

2. Raja’ (berharap)
Harapan muncul dari rasa cinta yang kuat. Hamba yang mencintai Allah, berharap cintanya dibalas oleh-Nya. Jika beramal shaleh, berharap amalannya diterima dan mendapat balasan dari-Nya, bukan dari manusia. Ibadah yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha-Nya.

“Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan dengan apapun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

3. Khauf (takut)
Selain harapan, mahabbah juga menimbulkan rasa takut, takut jika cintanya tidak dibalas Allah, takut jika ibadahnya ditolak-Nya, takut jika Allah marah. Dengan raja’ dan khauf tersebut, orang menjadi berhati-hati dan bersungguh-sungguh dalam beramal.

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Bagaimana cara menumbuhkan 3 pilar ibadah tersebut di atas? Yaitu:

  1. Mempelajari dan mengimani sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’alla
  2. Mengingat semua karunia dan nikmat-Nya
  3. Memperbanyak dzikir
  4. Mengimani hari pembalasan (akhirat)
  5. Mengarapkan keridhaan kepada Allah Ta’ala saja
  6. Menjadikan ibadah sebagai sebuah kebutuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban