Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas keimanan dan ruhiyah, Yayasan Al Hasanah kembali mengadakan pengajian rutin guru dan karyawan pada Sabtu (9/1). Pengajian yang dilaksanakan dua kali sebulan pada minggu pertama dan minggu ke-3 ini diadakan secara virtual dengan menghadirkan pemateri dari Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanah Ustadz H. Irham Hasymi, Lc.,M.Pd dengan tema “Husnudzan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alla.”

Dalam tausiyahnya, Ustadz Irham menyampaikan beberapa bentuk husnudzan kepada Allah, yaitu:

1. Husnudzan ketika menunaikan ketaatan kepada Allah

Syariat dari Allah merupakan panduan umat Islam dalam menjalani kehidupannya. Apapun yang diturunkan-Nya pasti yang terbaik. Tidak ada amalan dan ibadah yang sia-sia. Kaum muslimin wajib mematuhinya dan selalu berprasangka baik bahwa pasti ada hikmah besar dibalik semua ketentuan dan aturan tersebut. Termasuk keyakinan berupa pengabulan doa, diterima taubat, amunan atas dosa, maaf atas kesalahan, dan pemenuhan janji dari Allah. Umat Islam tidak boleh berkata ia sudah lama berdoa tapi tidak dikabulkan. Dalam hal mengabulkan doa umat-Nya, Allah ‘Azza Wa Jalla membagi dalam tiga jenis, yaitu: dikalbulkan di dunia, dikabulkan di akhirat dan ditolak karena mencegah sesuatu yang buruk (musibah).

”Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku, maka dia akan mendapatkan keburukan.” (HR.Tabrani dan Ibnu Hibban)

2. Husnudzan saat menjelang kematian

“Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali dia berhusnudzan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Di saat sakit yang berkepanjangan dan akhir hayat, umat Islam harus tetap husnudzan kepada Allah. Artinya, umat Islam tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, ampunan, maaf, dan pertolongan-Nya.

 

3. Husnudzan ketika mendapat cobaan (masa-masa sulit)

“Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka ia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga ia melakukan amal keburukan.” (HR. Ahmad).

Saat seorang muslim ditimpa musibah, cobaan atau ujian berupa kemiskinan, kesedihan, kesulitan, kehilangan atau apapun yang tidak menyenangkan, umat harus mempertebal husnudzan kepada Allah. Dengan bersabar dan berprasangka baik kepada-Nya akan memberikan kebaikan di masa depan.

Lima level manusia dalam menyikapi cobaan:

  1. Marah
  2. Sabar
  3. Ikhlas
  4. Ridha
  5. Bersyukur

Ustadz Irham memberikan contoh kisah sahabat Ka’b bin Mâlik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin ar-Rabi’ Radhiyallahu’anhum. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam melarang kaum Muslimin berbicara dengan mereka. Mereka bertiga diboikot selama 50 hari oleh kaum Muslimin karena tidak ikut dalam Perang Tabuk. Hal ini membuat mereka tertekan dan sedih. Di saat kondisi seperti itu, pimpinan suku Ghassan memberikan tawaran kedudukan dan kemuliaan bagi Ka’b bin Malik. Akan tetapi, karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul, Ka’b bin Malik menolak tawaran tersebut. Dalam kondisi sulit, para sahabat Nabi tetap berprasangka baik kepada Allah bahwa akhir dari cobaan ini pasti membawa kebaikan. Dan, mereka juga meyakini bahwa tidak ada tempat berlari dari ujian-Nya. Kisah mereka bertiga tertuang dalan Surat At Taubah ayat 117-119.

 

Beda Husnudzan dan Ghurur

Husnudzan merupakan ibadah hati. Dengan husnudzan kepada Allah akan mendorong umat Islam untuk terus memperbaiki amal ibadahnya. Hal ini karena dilandasi keyakinan bahwa Allah Maha Penolong dan Dia memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Akan tetapi, jika seorang muslim berprasangka baik kepada-Nya namun tetap melakukan kemaksiatan, maka pemahamannya terhadap konsep “husnudzan kepada Allah” salah. Tidak termasuk husnudzan kepada Allah mengharap pahala namun tidak melakukan amal shaleh. Inilah ghurur (tertipu).

 

Ustadz Irham mengajak seluruh guru dan karyawan senantiasa berhusnudzan kepada Allah Ta’ala. Mengapa? Karena orang yang berprasangka buruk kepada-Nya, maka dirinya akan jatuh pada kekafiran. Dengan berprasangka baik kepada-Nya, maka pribadi mukmin senantiasa memperbaiki amal ibadah dan kebaikan. Selain itu, yakinilah bahwa kasih sayang-Nya lebih besar daripada murka-Nya. Kecintaan-Nya pada hamba-hamba-Nya melebih cinta seorang Ibu kepada anaknya. Allah tidak akan menyakiti umat Islam

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”  (QS. Al Ahzab:40)

“Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751)