Suatu hari, seorang pemuda bertanya dengan seorang perempuan tua. Usianya kala itu memasuki 80 tahun. Pertanyaan pemuda ini sederhana

“Apa pesan terbaik yang diberikan oleh orangtua, Nek?”

“Ayah tidak ada memberikan pesan khusus. Beliau tidak berkata-kata, tapi memberikan contoh nyata.”

Perempuan tersebut bernama Azizah. Bagi orang Minang, panggilan nenek disebut Anduang. Anduang Azizah pun menambahkan:

“Tapi kalau pesan dari Ummi, Anduang ingat. Pertama, barangsiapa pandai bercermin, maka selamatlah hidup akhiratnya. Maksudnya, perbanyaklah mengoreksi diri sendiri, bukan orang lain. Kedua, hidup itu dijalani, bukan dipikirkan. Karena jika nantinya yang terlaksana tidak sesuai dengan yang diinginkan, kecewa jadinya.”

Pesan sederhana, tapi begitu bermakna. Petuah orang tua memang memberikan kesan tersendiri. Lalu muncullah pertanyaan. Siapakah sosok ayah dan ummi yang dimaksud? Mereka adalah Buya Hamka dan istrinya, Siti Raham.

Anduang Azizah adalah putri tertua dari Buya Hamka. Kondisi badannya sehat bugar, bahkan masih bisa memasak untuk cucunya. Beliaulah saksi hidup atas sejarah Buya Hamka. Karena memang, beliau pun amat dekat dengan Buya Hamka.

Berbicara tentang Buya Hamka, bisa jadi hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Padahal peran beliau dalam dakwah di nusantara begitu besar. Lebih dari seratus buku sudah dituliskannya. Universitas Al-Azhar di Kebayoran Lama adalah salah satu kontribusinya, Buah kerjasama dengan Universitas Al-Azhar Mesir. Karena beliau adalah tokoh Indonesia yang mendapatkan gelar doktor kehormatan honoris causa dari kampus tersebut. Bukan hanya dari Universitas Al-Azhar, Universitas Kebangsaan Malaysia juga pernah memberikan gelar serupa di tahun 1974.

Jika hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Jika kerja sekadar bekerja, kera di hutan juga bekerja.

Satu dari sekian banyak pesan emas dari Buya Hamka. Pemilihan diksinya yang begitu menarik, tajam, dan bernas. Karena memang beliau adalah sastrawan. Bahkan bukan hanya penulis sastra, beliau juga ulama dan politis. Dalam satu frasa, beliau adalah Ayah Bangsa karena komplitnya peran beliau dalam sejarah Indonesia.

Hamka adalah singkatan. Nama aslinya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ayahya bernama Abdul Karim Amrullah. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908.

Kisah kecil beliau seperti anak kecil lainnya. Ada waktunya bermain bersama teman sebaya. Tapi sosoknya berbeda. Bagi Buya Hamka alam pun adalah pembelajaran baginya. Sepertinya halnya pepatah minang, alam takambang jadi guru yang artinya alam adalah guru.

Tahun 1918, Buya Hamka masuk ke Madrasah Thawalib. Tapi keinginan belajar yang tinggi, membuat dia ingin mencari sumber pembelajaran lain. Tidak lama di sekolah dia memutuskan untuk berguru langsung dengan kenalan ayahnya. Syaikh Ibrahim Musa Parabek. Keinginan belajarnya yang sangat tinggi membuatnya meratau hingga Mekah. Belum genap 20 tahun sudah pergi haji sendiri. Berguru kepada Syaikh Khatib Al-Minangkabawi. Tokoh Indonesia yang menjadi imam besar di masjidil haram. Sosok guru dari ulama terkemuka pendiri Nahdalatul Ulama dan Muhammadiyah, Hasyim Ansari dan Ahmad Dahlan.

Tahun 1928, Buya Hamka menikah dengan Siti Raham. Istri shalihah yang menguatkan Buya Hamka dalam perjuangannya yang luar biasa. Memperjuangan kemerdekaan Indonesia, kancah politik negeri.

Tahun 1958, Buya Hamka mengisi seminar di Universitas Al-Azhar Mesir dan tahun berikutnya meraih gelar Doktor Honoris Causa seperti halnya yang diberikan kepada ayah Buya Hamka, Haji Rasul, sebutan bagi ayahnya.

Namun, di balik kisah emasnya itu, Buya Hamka juga mendapatkan ujian yang luar biasa, yaitu di pemerintahan masa Soekarno. Karena beliau adalah sosok yang berani menyampaikan pendapatnya melalui berbagai media. Panji Mas dan Gema Islam adalah salah beberapa majalah karyanya. Beliau di penjara tanpa alasan yang jelas. Hanya karena kritis pada pemerintah.

Walaupun raga beliau di penjara, tapi beliau tetap berkarya. Dalam waktu 2 tahun 4 bulan, Tafsir Al-Azhar dia selesaikan. 27,5 juz diselesaikan di penjara.
Hingga beliau wafat di tahun 1981, beliau terus berkarya untuk bangsa. Terhitung tidak kurang dari 120 buku sudah dilahirkannya. Jumlah yang melebihi usianya jika masih hidup hingga kini, 112 tahun.