Sejarah adalah bagian penting dari berdirinya sebuah bangsa. Tapi nyatanya, pelajaran sejarah di sekolah seringkali membosankan. Baik dari penyampaian gurunya, atau kurikulumnya.

Keluhan ini bukan hanya satu dua orang saja yang merasakan. Banyak yang mengalami kegelisahan serupa, tapi mengabaikan begitu saja. Karena yang penting, lulus sekolah dan lepas dari pelajaran sejarah.

Coba lihat kembali kurikulum sejarah di masa sekolah. Apakah masih ada pelajaran tentang manusia purba dan kerajaan Hindu Budha? Apakah ada sejarah membahas mengenai peran ulama? Bahkan adakah pembahasan mengenai Palestina dan kemerdekaan Republik Indonesia?

Secara kurikulum, pelajaran sejarah masih menjadi PR. Tapi sebagai orang yang tidak punya kuasa, kita tidak bisa mengubah sistem tersebut. Sebagian hanya bisa mengikuti apa yang sudah diberikan, sebagian mencoba untuk meluruskan, atau menambah makna dari apa yang diajarkan. Tapi mari kita bedah, kenapa pelajaran sejarah membosankan?

1. Tidak Sinkron Antar Pelajaran

Di sejarah belajar tentang manusia purba. Di agama Islam belajar bahwa manusia pertama adalah Nabi Adam. Lalu ketika seorang siswa bertanya dengan guru sejarah, mana yang lebih dulu antara manusia purba dan Nabi Adam, tidak jarang banyak guru yang menjawab:

“Sekarang lagi belajar sejarah, bukan agama.”

Jawaban seperti ini tentu membingungkan siswa. Ada pemisahan antara agama dengan pelajaran lainnya. Sekularisasi tanpa sadar.

2. Hanya Menceritakan Angka

Tahun 1908 berdiri Budi Utomo. Tahun 1928 diadakan Sumpah Pemuda. Tahun 1945 Indonesia Merdeka.

Angka dan peristiwa penting dihafal. Tujuannya agar bisa dijawab saat ada ujian atau soal pilihan ganda. Tapi siswa tidak mendapatkan insight atas tanggal-tanggal tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa dampak dari berbagai peristiwa penting tersebut dengan waktu setelahnya? Alhasil, karena siswa tidak mendapatkan insight, mereka hanya mengandalkan rumus menghafal cepat. Bahkan tidak sedikit yang mengandalkan contekan teman atau selipan keras.

3. Apa Manfaat Bagi Saya?

Alasan nomor tiga ini mungkin sederhana, tapi pengaruhnya tidak sederhana.

Pernahkah Anda mengabaikan suatu hal karena merasa hal tersebut tidak penting dalam hidup? Menghafal hanya untuk menjawab soal di ujian. Setelah itu dilupakan ya tidak masalah. Jika siswa dipantik dari penasarannya dan membuat pelajaran tersebut begitu penting dan berkesan baginya, tentu tidak akan diabaikan begitu saja.

Contoh tentang hikmah Perang Badar. Perang Badar terjadi pada tahun 1 Hijriah. Pasukan Islam terdiri dari 300an orang, dan pasukan musuh 1000an orang. Dalam perang ini pasukan Islam menang. Jika hanya sesederhana ini dan berbagai fakta disampaikan, hal tersebut hanya menjadi informasi, bukan inspirasi. Tapi coba didalami lagi. Bangun jembatan antara masa lalu dan sekarang sehingga sejarah menjadi hal penting dalam kehidupan.

Contoh:

Perang Badar terjadi di bulan Ramadan dan pasukan lslam menang. Maka harusnya, setiap tahun Ramadan yang kita jalani bisa menjadi energi dan memberikan sejarah baru.

Pasukan Islam jumlahnya jauh lebih sedikit dengan fasilitas terbatas. Tapi apa yang membuat mereka berani maju hingga akhirnya dengan izin Allah pasukan Islam menang? Kekuatan iman yang menjadi energi untuk melangkah, hingga Allah bantu. Pertanyaannya, seberharga apa iman kita saat ini?

Hal-hal semacam ini bukan lagi hanya menjadi angka saja. Tidak ada lagi gagal singkron antar pelajaran. Karena sesungguhnya, sejarah adalah kekuatan untuk meraih masa depan. Bukan hanya sebatas beban dan hafalan.

Ada sebuah kutipan menarik dari Edgar Hamas, founder @Gen.Saladin.

“Sejarah terlanjur disajikan seperti jagung mentah. Dan @Gen.Saladin adalah upaya untuk menyajikan sejarah seperti jasuke, jagung susu keju.”

Sejarah perlu dilihat dengan perspektif yang menarik dan penuh hikmah. Bukan hanya nostalgia lama dan hafalan angka saja.