Paman Nabi, Abu Thalib meninggal pada tahun kesepuluh kenabian. Saat itu Nabi banyak mendapatkan perlakuan tercela dari kaum musyrik. Mereka merasa sudah tidak lagi punya rintangan untuk menekan Rasulullah. Walaupun mendapatkan banyak perlakuan keji, tetapi Rasulullah tak gentar dalam menyerukan tauhid. Allah menurunkan ayat tentang kondisi Rasulullah:

لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ اَلَّا يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.
(Asy-Syu‘arā’ [26]:3)

Beliau memegang teguh perkataan sewaktu Abu Thalib masih hidup:

يا عم! والله لو وضعوا الشمش في يميني والقمر في يساري على أن أترك هذا الامر حتى يظهره الله أو أهلك فيه ما تركته

Duhai Paman! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan urusan ini, hingga Allah memenangkannya atau aku akan binasa karenanya, aku tidak akan meninggalkannya.

Rasulullah secara konsisten menyerukan ajaran Islam terutama pada musim haji, hingga gaungnya terdengar sampai ke Yatsrib (Madinah). Waktu itu terjadilah dua peristiwa penting penanda hijrah Rasul, yaitu baiat aqabah pertama pada tahun 12 Nubuwwah dan baiat aqabah kedua pada tahun 13 Nubuwwah.

Nabi meninggalkan rumah untuk berhijrah pada malam 27 Shafar tahun 13 Nubuwwah, bersama Abu Bakar. Keduanya lalu bersembunyi di Gua Tsur selama tiga malam, lalu melanjutkan perjalanannya menuju Madinah. Saat itu Nabi berdoa:

اللهم انك تعلم انهم أخرجوني من أحب البلاد إلي فاسكني أحب البلاد اليك

Ya Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa mereka telah mengusirku dari negeri yang paling aku cintai, maka tempatkanlah aku di negeri yang paling Engkau cintai.

Melalui perjalanan hijrah tersebut, kebangkitan umat Islam dimulai. Mereka menikmati kehidupan di Madinah setelah banyak tertindas selama hidup di Makkah. Dari Madinah, kalimat Allah yang diperjuangkan akhirnya perlahan bersinar hingga ke seluruh dunia.

Momentum hijrah kemudian ditetapkan sebagai kalender Islam pada masa kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Suatu ketika ada seorang dari Yaman bercerita bahwa ia melihat sesuatu yang disebut sebagai kalender oleh masyarakat Yaman. Kala itu Umar langsung tertarik membuat kalender atau penanggalan, terutama karena adanya hijrah yang menjadi pembeda antara kebenaran dan kebathilan.

Akhirnya dimulailah diskusi tentang dimulainya kalender Islam. Ada yang mengusulkan mulai lahirnya Nabi, wafatnya Nabi, hingga hijrah. Utsman bin Affan mengusulkan kalender dimulai dari bulan Muharram karena bulan tersebut adalah bulan suci, dan waktu kepulangan orang berhaji.

Sejak saat itu dimulailah penanggalan tahun Hijriah dengan diawali bulan Muharram, yang digagas oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.