Perebutan kekuasaan adalah hal yang hampir selalu ada dalam setiap sejarah. Tidak terkecuali dalam sejarah kerajaan Nabi Daud, ayah Nabi Sulaiman. Pemberontakan dalam kisah ini dilakukan oleh Absyalum, kakak dari Nabi Sulaiman.

Absyalum merupakan anak tertua Nabi Daud atau kakak sulung Nabi Sulaiman. Absyalum tahu bahwa kelak tahta Nabi Daud akan diberikan kepada Nabi Sulaiman, dan bukan dirinya. Sementara, sebagai anak tertua, dia merasa bahwa sudah seharusnya tahta tersebut diwariskan kepadanya.

Absyalum Menghimpun Dukungan Dari Rakyat

Sejak kecil, Nabi Sulaiman memang merupakan anak yang paling cerdas dan bijak. Karena itulah Nabi Daud menganggap bahwa Nabi Sulaiman adalah orang yang paling berhak mewarisi tahta dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

Mengetahui hal ini, Absyalum yang merupakan kakak tertua Nabi Sulaiman merasa tidak terima. Menurutnya, dia lebih berhak atas tahta ayahnya. Di samping itu, Absyalum juga merasa bahwa Nabi Sulaiman telah melangkahinya.

Rasa cemburu dalam dirinya membuat Absyalum menaruh dendam pada Nabi Daud. Dia pun berencana untuk melakukan pemberontakan dan merebut kekuasaan dari ayahnya secara paksa. Untuk itu, Absyalum mulai dengan pendekatan kepada rakyat secara bertahap.

Selama bertahun-tahun, Absyalum mendekati rakyat perlahan-lahan sambil mengumpulkan pasukan. Dengan begitu, tidak ada yang curiga atau mengetahui rencana yang ingin Absyalum lakukan. Lama kelamaan, pendukung Absyalum semakin banyak orang yang mendukung dan berpihak pada Absyalum. Dia pun merasa bahwa sudah saatnya pemberontakan dijalankan.

Pemberontakan Absyalum Dijalankan

Absyalum mulai menjalankan rencana pemberontakannya. Dalam rencana tersebut, dia berniat untuk mengambil kekuasaan ayahnya secara paksa. Pada mulanya, Absyalum menyebarkan mata-mata di seluruh pelosok kota untuk memantau situasi.

Setelah kondisi dianggap tepat, pemberontakan pun dimulai dengan tiupan terompet sebagai tanda. Bersama suara terompet tersebut, masyarakat yang memihak pada Absyalum berkerumun di sekitar Absyalum untuk mendeklarasikan jabatannya sebagai raja. Seiring dengan itu, para pendukung Absyalum melakukan protes sambil bersorak dan meminta Nabi Daud turun dari jabatannya sebagai raja.

Hal ini sudah tentu membuat kota menjadi kacau. Huru-hara dan keributan berlangsung di seantero kota. Perkelahian dan perselisihan antara masyarakat yang pro dan kontra kepada Absyalum pun tidak bisa dihindari. Sayangnya, dalam kerusuhan tersebut, Absyalum justru terbunuh dan tahta Nabi Daud pun tidak jadi tergantikan.

Kedamaian Berangsur-Angsur Kembali

Dengan terbunuhnya Absyalum, tujuan pemberontakan menjadi hilang. Posisi Nabi Daud sebagai raja pun tidak jadi tergantikan. Masyarakat yang sebelumnya mendukung Absyalum kembali ke rutinitas masing-masing. Kondisi kota pun perlahan-lahan kembali damai seperti sebelumnya.

Nabi Daud pun melanjutkan kepemimpinannya selama empat puluh tahun hingga beliau wafat. Sesuai dengan yang direncanakan Nabi Daud, Nabi Sulaiman naik tahta untuk menggantikan kepemimpinan ayahnya.

Kemudian, Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah agar memberikannya sebuah kerajaan yang tidak pernah dimiliki siapapun sebelumnya, dan tidak akan pernah dimiliki siapapun setelahnya. Allah pun mengabulkan permohonan Nabi Sulaiman dan memberikannya kekuasaan serta membuat Nabi Sulaiman menjadi pemimpin manusia, jin, dan juga hewan-hewan.

Meskipun Nabi Sulaiman memanjatkan doa yang ambisius, bukan berarti Nabi Sulaiman adalah orang yang gila kekuasaan.Nabi Sulaiman menginginkan kekuasaan tersebut sebagai wasilah atau saran untuk menyebarkan dakwah dan agama Allah di muka bumi. Beliau berniat untuk menjadikan kekuasaan yang dimilikinya untuk memerangi segala kedzaliman yang ada di muka bumi.