Dari berbagai alam yang dilalui oleh manusia, dunia adalah alam yang menjadi tempat manusia belajar dan mencari pahala. Selain itu, Allah juga menguji keimanan manusia selama di dunia. Berbagai ujian dan cobaan yang dialami manusia merupakan takdir dari Allah. Hal ini Allah tulisan dalam qur’an surat Al-Mulk ayat 2:

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
(Al-Mulk [67]:2)

Dalam Al-qur’an juga disebutkan bahwa ada lima ujian yang Allah berikan kepada manusia.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,
(Al-Baqarah [2]:155)

Di luar kesulitan-kesulitan yang Allah sebutkan lewat Al-Qur’an, sebetulnya ada banyak jenis ujian lain. Jika ujian kita kenal selalu berhubungan dengan kesulitan, apakah sebenarnya hanya kesulitan yang dapat disebut ujian?

Pada kehidupan sehari-hari, kita tentu banyak melihat dan merasakan nikmat yang Allah berikan untuk kita. Sebagai hamba, dengan menerima banyak nikmat itu kita malah masih sering durhaka dan tidak taat kepada Allah. Lantas mengapa Allah memberikan nikmat kepada hambaNya yang sering durhaka?

Selain karena Allah Maha Pengasih lagi Penyayang, kondisi tersebut ada kalanya perlu kita waspadai. Syekh Ibnu Athaillah dalam sebuah hikmah menyampaikan:

خف من وجود إحسانه إليك ودوام إساءتك معه أن يكون ذلك استدراجاً سنستدرجهم من حيث لا يعلمون

Takutlah pada kebaikan Allah kepadamu di tengah keberlangsungan durhakamu terhadap-Nya karena itu bisa jadi sebuah tipudaya (istidraj) seperti firman-Nya, ‘Kami memperdayakan (mengistidrajkan) mereka dari jalan yang mereka tak ketahui.

 Istidraj merupakan kondisi yang menjadi perangkap bagi manusia yang durhaka kepada Allah justru mendapatkan kondisi lebih baik dan makmur. Padahal sejatinya, kondisi tersebut adalah penundaan dari azab yang akan Allah berikan padanya.

Syekh Ibnu Ajibah dalam Iqazhul Himam fi Syarhil Hikam menyampaikan bahwa kita perlu takut atas karunia yang Allah berikan di tengah kedurhakaan kita sebagai makhluk. Sebab hal tersebut bisa jadi menjadi jalan azab dari Allah berupa kegagalan dan kelalaian.

Untuk menghindari istidraj, sebagai hamba kita perlu lebih rajin dalam mengucap syukur kepada Allah atas segala karuniaNya. Bukan malah menjadi manusia yang jumawa.