Setelah lewat bulan suci Syawal yang menjadi puncak setelah bulan puasa, selanjutnya masuk bulan Dzulhijah yang identic dengan berkurban. Apakah hanya berkurban amalahn di bulan ini? Mari kita simak penjabarannya.

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah. Empat bulan haram yang dimaksud adalah; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al-Muharram, dan Rajab. Sehingga bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang mulia, terutama pada sepuluh hari pertamanya.

Diriwayatkan pula dari Ibnu ’Abbas, dari Nabi beliau bersabda; ”Tidak ada amalan yang dilakukan pada sepuluh hari yang lebih utama daripada yang dilakukan pada harihari (bulan Dzulhijjah) ini.” Para sahabat bertanya, ”Tidak pula jihad?” Beliau menjawab,

Tidak pula jihad, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan membawa apapun.
(HR. Bukhari Juz 1: 926)

Amalan Utama di Bulan Dzulhijjah


Di antara amalan yang utama dalam bulan Dzulhijjah adalah

1. Berpuasa

Disunnahkan melakukan puasa sembilan hari pada awal bulan Dzulhijjah. Sebagaimana diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata;

Nabi berpuasa pada hari ’Asyura, sembilan hari (pertama) bulan Dzulhijjah, dan tiga hari pada setiap bulan.
(HR. Ahmad, Baihaqi Juz 4 : 8176, Nasa’i Juz 4 : 2372, lafazh ini miliknya, dan Abu Dawud: 2437. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani 5 dalam Shahih Sunan Abi Dawud : 2106)

Dan yang paling utama adalah melakukan puasa Arafah, puasa tanggal 9 Dzulhijjah. Berkata Imam An-Nawawi:

Tidak dimakruhkan berpuasa pada sembilan hari (Dzulhijjah) ini, bahkan sangat disunnahkan, terutama hari kesembilannya, yaitu hari Arafah.
( Syarah Muslim, 3/251)

Puasa pada hari tersebut akan menghapus dosadosa setahun lalu dan yang akan datang. Diriwayatkan dari Abu Qatadah Al-Anshari, ia berkata;

Bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab:

Ia menghapuskan dosadosa setahun lalu dan yang akan datang.
(HR. Muslim Juz 2: 1162)

2. Melaksanakan Shalat ‘Idul Adha

Karena Nabi senantiasa melaksanakan Shalat ‘Ied dan tidak pernah meninggalkannya sekalipun. Bahkan beliau juga memerintahkan manusia untuk keluar mengerjakannya, menyuruh wanita-wanita yang merdeka, gadis-gadis pingitan, dan wanita haidh untuk ikut menghadirinya. Diriwayatkan dari Ummu Athiyyah, ia berkata:

Kami diperintahkan oleh Rasulullah ketika (‘Idul) Fitri dan (‘Idul) Adh-ha agar mengajak keluar para gadis, para wanita yang sedang haidh, dan para wanita yang berhalangan hadir. Adapun para wanita yang sedang haidh mereka menjauh (dari tempat) shalat, (namun) mereka (tetap) menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin.
(Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 1 : 318 dan Muslim Juz 2: 890, lafazh ini miliknya)

3. Berqurban

Hari kurban merupakan hari yang paling agung di sisi Allah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Qurtin, dari Nabi, beliau bersabda;

Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari kurban kemudian Hari Qarr (tanggal 11 Dzulhijjah).
(HR. Abu Dawud : 1765. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh AlAlbani 5 dalam Shahihul Jami’ : 1064)

Ketika tiba saat hari kurban, maka amalan yang paling utama adalah menyembelih hewan qurban. Allah berfirman;

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.
(QS. Al-Kautsar: 2)

Rasulullah semenjak tinggal di Madinah, beliau senantiasa berkurban. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata;

Nabi tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, beliau selalu berkurban.
(HR. Tirmidzi Juz 4 : 1507 dan Ahmad)

Rasulullah mengancam bagi orang yang mampu namun tidak berqurban, maka orang tersebut tidak diperbolehkan mendekati tempat shalat Rasululah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda:

Barangsiapa memiliki kemampuan (harta) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.
(HR. Ibnu Majah : 3123. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ : 6490)

Bagi seorang yang akan berqurban jika telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya. Hal ini berdasarkan hadits dari
Ummu Salamah, bahwa Nabi bersabda:

Jika telah masuk sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih hewan qurban, maka hendaklah ia tidak memotong rambut dan kulitnya sedikit pun.
(HR. Muslim Juz 3 : 1977)

Dalam lafadz lain:

Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya sedikit pun hingga ia berqurban.
(HR. Muslim Juz 3 : 1977)

Syarat-syarat yang harus terpenuhi bagi seorang yang akan berqurban, antara lain:

a. Hewan qurban berupa unta, sapi, atau kambing

Berdasarkan firman Allah:

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut Nama Allah terhadap hewan ternak yang telah dirizkikan oleh Allah kepada mereka. Sesembahan kalian ialah Sesembahan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kalian kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).
(QS. Al-Hajj : 34)

Adapun yang dimaksud dengan bahimatul an’am (hewan ternak) adalah; unta, sapi, dan kambing. Pengertian inilah yang umum dikenal di kalangan orangorang arab. Demikian pula penjelasan dari Hasan AlBashri, Qatadah, dan yang lainnya.

b. Usia hewan qurban telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Syari’at

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin:

(Yang dimaksud dengan) musinnah adalah hewan yang telah mencapai usia tsaniyah atau lebih tua dari itu. Dan jad’ah adalah usia yang kurang dari tsaniyah tersebut. Usia tsaniyah untuk:

  • Unta adalah telah genap berusia lima tahun
  • Sapi adalah telah genap berusia dua tahun
  • Kambing adalah telah genap berusia satu tahun(Adapun) usia jaz’ah untuk domba (kibasy) adalah:
  • Domba kibasy telah genap berusia setengah tahun(6 bulan)”

c. Hewan qurban tidak memiliki cacat yang dapat menghalangi keabsahannya

d. Hewan qurban merupakan milik orang yang akan berqurban

e. Hewan qurban tidak berkaitan dengan hak orang lain

f. Penyembelihan hewan qurban dilakukan pada waktu yang ditentukan Syari’at

5. Berhaji

Bagi seorang muslim yang dikaruniai kecukupan harta dan kemampuan, maka hendaklah ia melaksanakan ibadah haji. Karena ibadah haji merupakan ibadah yang memiliki keutamaan yang sangat besar dan balasannya adalah Surga dan pengampunan dosa. Diriwayatkan dari
Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

Umrah yang satu ke umrah yang berikutnya dapat menghapuskan (dosa) di antara keduanya. Dan hajimabrur tidak memiliki balasan kecuali Surga.
(Muttafaq ’alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1683 dan Muslim Juz 2: 1349)

Shalawat dan salam semoga tercurahkan
kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya,
dan para sahabatnya. Dan penutup doa kami,
segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

 Sampai sini kita sudah tau amalan di bulan Dzulhijjah. Semoga kita semua bisa mempelajarinya dan termotivasi melakukan amalan kebaikan tersebut.

Nantikan kelanjutan serial artikel Amalan di Bulan Hijriyah selanjutnya.