Pada tahun 2020 kali ini, tahun baru hijriyah ada pada tanggal 19 Agustus 2020. Hal ini menunjukkan bahwa kita akan segera menyambut bulan Muharam, salah satu bulan mulia yang menjadi awal dari penanggalan hijriyah. Pada bulan ini, ada banyak amalan yang dicontohkan oleh para alim ‘ulama. Tak hanya itu, ada pula beberapa puasa sunnah yang sayang jika tak dilaksanakan.

Terkait keutamaan bulan Muharam, hadis dari sahabat Abi Bakrah menerangkan hal tersebut, yang berbunyi sebagai berikut:

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ  قَالَ «الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.

Artinya: Dari Abi Bakrah dari Rasulullah, bersabda:

Sesungguhnya masa berputar seperti hari saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah 12 bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Yang tiga secara beriringan, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.
(HR al-Bukhari 5550 dan Muslim 4477)

Ada beragam puasa sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan mulia ini, terutama pada sepuluh hari pertama. Hal ini merujuk kepada hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: Rasulullah SAW berkata,

Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharam. Sementara salat paling utama setelah shalat fardhu adalah salat malam.

Di hadis tersebut, Rasulullah tak menyebutkan secara spesifik terkait waktu berpuasa sunnah di bulan Muharam. Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (syarah sunan Tirmidzi) menyebutkan:

صَوْمِ الْمُحَرَّمِ ثَلَاثَةٌ الْأَفْضَلُ أَنْ يَصُومَ يَوْمَ الْعَاشِرِ وَيَوْمًا قَبْلَهُ وَيَوْمًا بَعْدَهُ وَقَدْ جَاءَ ذَلِكَ فِي حَدِيثِ أَحْمَدَ وَثَانِيهَا أَنْ يَصُومَ التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَثَالِثُهَا أَنْ يَصُومَ الْعَاشِرَ فَقَطْ

Artinya:

Puasa Muharam ada tiga bentuk. Pertama, yang paling utama ialah puasa di hari kesepuluh beserta satu hari sebelum dan sesudahnya. Kedua, puasa di hari kesembilan dan kesepuluh. Ketiga, puasa di hari kesepuluh saja.

Pertama

Puasa Tasu`a. Puasa sunnah ini dianjurkan untuk dilaksanakan pada tanggal 9 Muharam, mengacu pada salah satu Hadis riwayat Imam Muslim.

Dalam Hadis itu, Rasulullah SAW bersabda: “Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tasu`a (pada 9 Muharram).” Tetapi Rasulullah SAW wafat sebelum Muharam tahun berikutnya tiba.

Kedua

Puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharam. Dijelaskan dalam Hadis yang diriwayatkan Abu Qatadah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharam) menghapuskan dosa setahun yang lepas,
(HR Muslim)

Jika kita hendak melaksanakan keduanya (puasa Tasu’a dan Asyura) pun akan lebih baik, sebaga bentuk syukur karena dapat merasakan bulan Muharam di tahun yang baru. Selain mengejawantahkan rasa syukur, puasa di bulan Muharam juga tentu mengingatkan kita pada Nabi Nuh dan Nabi Musa yang juga berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur karena Allah beri keselamatan.