Seluruh ummat beragama tentu memiliki aktivitas keagamaan sesuai kepercayaannya, yang biasa disebut ibadah. Jika ditinjau berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ibadah merupakan perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT yang didasari ketaatan untuk mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Luasnya cakupan ibadah juga didefiniskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Al-‘Ubudiyyah:

الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة.

“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup semua yang Allah cintai dan Allah ridhai, baik ucapan atau perbuatan, yang lahir (tampak, bisa dilihat) maupun yang batin (tidak tampak, tidak bisa dilihat).”
(Al-‘Ubudiyyah, halaman 44)

Dalam Islam, ada berbagai macam ibadah yang dilakukan oleh kaum muslim. Ternyata, jenis ibadah yang beraneka ragam juga dapat dibagi atau dikelompokkan berdasarkan hal tertentu. Umumnya kita mendengar kelompok ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah.

Secara bahasa, mahdhah berarti murni atau tak bercampur. Sedangkan ghairu mahdhah berarti tidak murni atau bercampur dengan yang lain. Terkait definisinya, ada beberapa pandangan terkait ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Namun, umumnya ummat Islam memahami bahwa ibadah mahdhah adalah ibadah yang tidak dapat diwakilkan oleh orang lain, sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah yang dapat diwakilkan oleh orang lain.

Beberapa ciri ibadah mahdhah adalah:

  1. Merupakan jenis ibadah sejak asal penetapannya dari dalil syariat.
  2. Dikerjakan dengan niat mendapat pahala di akhirat.
  3. Tidak dapat dijangkau dengan akal.

Sedangkan beberapa ciri ibadah ghairu mahdhah adalah:

  1. Aktivitas atau ucapan yang awalnya atau sejatinya tidak berupa ibadah, tetapi dapat berubah bernilai ibadah karena niat dari orang yang melaksanakannya.
  2. Dikerjakan dengan maksud memenuhi kebutuhan yang tidak bersifat ukhrawi.
  3. Aktivitas yang dilakukan dapat dijangkau secara logis.

Berdasarkan dari definisinya, contoh ibadah mahdhah adalah salat. Salat merupakan aktivitas yang sejak awal dinilai sebagai ibadah berdasarkan dalil yang ada, dikerjakan dengan niat bertaqwa dan mendapat pahala di akhirat, dan alasan pelaksanaannya tak dapat dijangkau oleh akal manusia.

Pada tataran ibadah ghairu mahdhah, biasanya kita mengerjakan sedekah. Awalnya, sedekah adalah kegiatan memberi sesuai kebutuhan manusia di dunia. Namun aktivitas ini jadi memiliki nilai lebih tinggi yaitu sebagai ibadah, dan pelaksanaannya dapat dijangkau secara logis.