Darah istikhadhoh adalah darah penyakit yang biasanya keluar bukan pada masa haid dan nifas. Darah ini berasal dari urat yang pecah. Berbeda dengan darah haid dan nifas yang memiliki batas maksimal dan minimal, darah ini tidak memiliki batas minimal dan maksimal. Artinya, darah ini akan terus keluar selama wanita yang mengalami belum sembuh dari sakit yang menyebabkan keluarnya darah istikhadhoh. Ciri dari darah istikhadhoh adalah berwarna merah, baunya seperti darah biasa, berasal dari urat yang pecah, dan cair atau segar seperti darah biasa.

Wanita yang mengalami istikhadhoh memiliki konsekuensi yang berbeda dengan wanita yang sedang haid atau nifas dalam melaksanakan ibadah. Jika wanita yang sedang haid atau nifas tidak diperbolehkan untuk solat, puasa, menyentuh al-Quran maka tidak demikian bagi wanita yang mengalami istikhadhoh. Wanita yang mengalami tetap wajib melaksanakan solat 5 waktu, puasa di bulan Ramadan, boleh menyentuh dan membaca al-Quran, towaf, sai, masuk masjid, dan melakukan hubungan suami-istri.

Berkenaan dengan penejelasan di atas, wanita yang sedang mengalami istikhadhoh harus tetap memperhatikan kesuciannya terlebih jika akan menjalankan ibadah. Hal ini disebabkan oleh hukum istikhadhoh yang dikategorikan sebagai hadas permanen layaknya orang yang beser (kecing secara terus menerus). Cara mensucikan darah istikhadhoh sama seperti menghilangkan hadas kecil pada umumnya. Bagi mustahadhoh jika akan melaksanakan solat maka terlebih dahulu membasuh kemaluan kemudian berwudhu sesegara mungkin dan tetap menggunakan pembalut supaya tidak ada najis yang mengenai pakaian.

Jika dirinci tata cara bersuci bagi mustahadhoh (orang yang sedang mengalami istikhadhoh) adalah sebegai berikut, pertama mencuci kemaluan. Mencuci kemaluan dimaksudkan untuk menghilangkan najis yang ada. Sama seperti kotoran pada umumnya darah istikhadhoh dapat dihukimi sebagai najis mutawasitah. Dengan demikian, najis yang nampak harus dihilangkan terlebih dahulu. Kedua, menutup kemalaun dengan kapas atau pembalut. Hal ini dimaksudkan untuk mencagah darah keluar ke permukaan dan mengenai pakaian selama menjalankan solat. Ketiga, bersuci yaitu dengan wudhu atau tayamum. Bagi mustahadhoh pada tahap ini dilakukan menjelang solat dan setelah bersuci diupayakan sesegera mungkin langsung melaksanakan solat. Selalu memperbarui wudhu saat setiap akan melaksanakan solat dimaksudkan untuk menjaga dari kekhawatiran batalnya wudhu. Itulah tata cara bersuci bagi wanita yang mengalami istikhadhoh. Bagi wanita yang mengalami istikhadhoh tidak perlu risau karena ini adalah hal yang umum terjadi dan dapat disembuhkan serta islam telah memberi kemudahan dalam menajalankan kewajiban ibadah.