Zaman yang semakin berkembang berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusianya. Di dunia pendidikan, hal tersebut memicu lembaga sekolah dalam menyiapkan konsep pembelajaran untuk para siswa.

Tidak jarang kita temukan sebuah lembaga pendidikan anak usia dini dan taman bermain mengajarkan siswanya untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan ada juga lembaga yang berani menjamin bahwa output lulusannya akan mampu mnghafalkan beberapa materi pembelajaran. Namun, sebetulnya bolehkah anak usia TK diajak belajar hal-hal tersebut?

Orang tua yang memiliki anak usia TK biasanya akam sangat bangga jika sang anak sudah memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Mereka akan berlomba-lomba mencari sekolah terbaik yang dapat menjamin kemampuan anaknya, sekali pun masih pada usia TK.

Yulita Semet, M. Psi mengatakan bahwa beban belajar tersebut sebaiknya mulai dikenalkan pada anak saat usia tujuh tahun, karena pada usia itu kemampuan sensori dan motorik yang menjadi modal utama dalam aktivitas membaca, menulis, dan berhitung telah matang.

Perlu diperhatikan bahwa jika beban belajar dipaksakan pada diri anak, mereka akan punya potensi untuk tidak punya motivasi dalam belajar, bosan bersekolah, bahkan hingga merasa tertekan yang berujung pada stres dan depresi.

Sebagai pengganti beban belajar membaca, menulis, dan berhitung sebetulnya ada banyak aktivitas pembelajaran yang lebih menyenangkan bagi anak. Misalnya belajar penggunaan toilet, kedisiplinan, bermain peran, atau hal lain yang dapat mengembangkan karakter baiknya.

Walaupun setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak, tetapi orang tua juga perlu memerhatikan minat juga kemampuan anak. Tidak semua hal harus diajarkan sejak dini, sebab pada hakikatnya belajar adalah proses panjang yang akan selalu dijalani oleh anak sebagai manusia.