Ijtihad adalah

1. Tidak mengingkari orang yang menyelisihi ijtihad ulama

Hal pertama yang perlu disadari adalah bahwa perbedaan pendapat dalam Islam adalah hal yang wajar. Karena itu, pasti ada orang yang menyelisihi ijtihad para ulama. Namun, hal ini tidak lantas menjadikan orang tersebut berdosa, fasiq, atau bahkan kafir.

Dengan menyadari hal ini, maka seorang muslim seharusnya tidak mudah menuduh muslim lainnya sebagai pendosa, fasiq, dan kafir karena tidak menerima ijtihad ulama yang sama dengan Anda.

2. Jika mengingkari, harus disertai dengan penjelasan hujjah atau dalil

Meski begitu, bukan berarti setiap orang bisa menyelisihi ijtihad ulama sesuka hati. Menyelisihi pendapat ulama harus dilandasi dengan hujjah atau dalil yang tepat. Sehingga bisa dipahami mengapa orang tersebut atau bahkan Anda memiliki pendapat yang berbeda dengan ijtihad yang dikeluarkan oleh para ulama.

3. Boleh mengikuti salah satu dari dua pendapat yang lebih diyakini kebenarannya

Perbedaan hukum dalam hasil ijtihad adalah sesuatu yang lumrah dan telah ada sejak dulu. Karena hal tersebut berada pada masalah cabang atau furuiyyah dalam ajaran islam. Sejalan dengan hal tersebut, seorang muslim tidak dipaksa untuk mengikuti salah satu pendapat saja. Seorang ulama yang mengambil ijtihad pun tidak diperbolehkan untuk memaksakan pendapatkan untuk diikuti.

Jika ada perbedaan pendapat antara satu ijtihad dengan ijtihad lainnya, maka seorang muslim boleh boleh mengikuti salah satunya yang dia anggap benar dan meninggalkan yang lain. Akan tetapi, pemilihan ijtihad yang diambil harus diambil dengan berlandaskan dalil, dan bukan karena mengikuti hawa nafsu atau sekedar mengambil yang paling mudah.

4. Perselisihan antara dua orang dalam masalah ijtihadiyah tidak mengeluarkan orang tersebut dari area iman

Salah satu masalah yang terjadi saat ini adalah ada saja seorang muslim yang mengikuti satu ijtihad dan menganggap muslim lain yang tidak mengikuti sebagai kafir. Padahal, perbedaan dalam masalah ijtihadiyah tidak akan membuat orang yang berbeda pendapat menjadi jatuh dalam kekafiran.

Karena itu, seorang muslim juga tidak boleh mengkafirkan orang lain hanya karena perbedaan masalah ijtihadiyah. Sebaliknya, sudah seharusnya perbedaan tersebut dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

5. Menyadari keutamaan ulama yang berijtihad

Mengambil suatu ijtihad bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Karena itu, sudah sewajarnya jika seorang muslim menghormati ulama yang melakukan ijtihad. Dan memahami bahwa setiap ulama yang berijtihad bisa saja melakukan kesalahan sebagai manusia.

Akan tetapi, saat seorang ulama mengeluarkan ijtihad yang keliru, maka Allah akan memberikan satu pahala karena sudah melakukan proses berijtihad. Dan jika ijtihadnya benar, maka bagi ulama tersebut dua pahala. Lalu, jika Allah memberikan keutamaan seperti itu kepada para mujtahid, maka bukan menjadi hak kita untuk menyalahkan ulama – ulama yang melakukan ijtihad meskipun ijtihadnya terlihat keliru.

Itulah beberapa hal yang perlu dilakukan seorang muslim dalam menyikapi ijtihad para ulama. Semoga setiap kita diberikan kemampuan untuk melaksanakan kebaikan dan diberi petunjuk oleh Allah untuk memahami setiap kebaikan.